Pernahkah
mendengar kata bijak bahwa “ hidup
adalah perjuangan”, sejatinya memang benar bahwa hidup ini adalah perjuangan.
Perjuangan untuk tetap dalam dekapan dan jalan sang Rahman, perjuangan agar
tetap Istiqamah dalam jalan yang lurus dan perjuangan memanfaatkan dunia ini
sebagai ladang penghasil amlan yang baik dan berguna bagi hidup kita.
Berbicara
mengenai kehidupan tak akan jauh dari yang namanya cinta kepada Allah, cinta
kepada Allah sangatlah penting dimiliki setia insan manusia karena dengan senatisa
mencintai Allah maka amalan ibadah kita akan semakin giat dan semakin
meningkat. Untuk apa kita hidup jika dalalam hatinya tidak mengingat ataupun
mencintai Allah. Hidup didunia hanyalah sementara, tujuan hakikinya adalah
dihidupkan oleh Allah maka ketika hidup akan mengabdi kepada Allah.
Ketika
sudah mencintai Allah apapun akan kita lakukan untukNya, apapun perintahnya
akan kita laksanakan dan apapun larangannya akan kita tinggalkan. Wujud
kecintaaan hamba kepada Tuhannya dicontohkan oleh Baginda nabi Ibrahim as. Banyak
sekali ujian dan cobaan yang datang kepada nabi Ibrahim namun Ia berhasil
menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT walaupun keluarganya
sekalipun.
Seperti
yang telah diceritakan di dalam Al Quran bahwa nabi ibrahim sangat menantikan
akan lahirnya seorang anak setalah menikah bartahun-tahun, hingga ia akhirnya
menikahi pembantunya sendiri. Allhamdullilah akhirnya ia mendapatkan keturunan
dari pembantunya ini, Siti Hajar namanya.
Kemudian
setelah anaknya lahir, beberapa saat kemudian Allah memerintahkan untuk membawa
anaknya yang masih bayi beserta istrinya ke sebuah padang tandus yang panas
tanpa pepohonan. Betapa miris hati beliau dalam menjalankan perintah Allah ini,
namun sekuat tenaga beliau tetap tegar menjalankan perintah ini.
Ia
mengantarkan mereka ke padang dan meninggalkan keduanya, dengan derai air mata
yang berlinang di pipinya, ia tetep menguatkan hati untuk meninggalkan keduanya
di padang tandus. Ini karena cinta dan imannya kepada Allah lebih utama.
Singkat cerita ketika sang bayi yang nabi Ibrahim beri nama Ismail mulai
beranjak dewasa Allahpun menguji keimannanya lagi dan memerintahkan untuk
menyembelih anak kesayangannya ini. Perintah itu berawal dari mimpinya dan
kemudian ia menyampaikannya kepada Ismail dan pada akhirnya Ismailpun
menyanggupinya.
Nabi
Ismail rela disembelih oleh ayahnya, hingga pada saat akan di sembelih Allah
memerintahkan kepada malaikat untuk mengganti nabi Ismail dengan kambing yang besar dan akhirnya kambing itulah yang
disembelih oleh nabi Ibrahim. Peristiwa inilah yang menjadi sejarah terpenting
dalam agama Islam dan menjadi titik awal diadakannya hari raya idul adha atau
lebih populer dengan hari raya kurban.
Hal
ini menunjukan bahwa nabi Ibrahim mendahulukan cintanya kepada Allah dibandingkan
cintanya kepada keluarganya. Keluargan hanyalah titipan dari Allah, namun
disini bukan berarti beliau menghilankan cintanya kepada keluarganya karena
Allah, akan tetapi berarti bahwa ditengh-tengah cintanya kepada Allah, beliau
juga mencintai keluarganya. Hanya saja cintanya kepada keluarganya berada
terlingkup dalam cintanya kepada Allah.
Hal
ini sebenarnya dalah ujian dari Allah bagi hambaNya untuk megetahui mana yang
lebih dicintai oleh hamba-Nya. Dan dengan kisah tadi menunjukan bahwa nabi
Ibrahim menunjukan kecintaanya kepada Allah dibandingan dengan keluarganya.
Allah
berfirman dalam surat At-Taubah ayat 24
Katakanlah: "jika
bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
fasik.
Ujian
yang dialami nabi Ibrahim adalah tanda cinta Allah kepada UmatNya, keluarga pun
menjadi cobaan dalam kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa rumah dalam
membina keluarga menjadi surga bagi setiap insan.
|
|
Rumah adalah tempat kita berteduh,
tempat istirahat dan tempat berbagi perasaan baik suka maupun duka. Rumah
adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa kita hindarkan. Rumah adalah tempat yang
paling nyaman dan membuat kita bahagia dengan demikian spiritual tumbuh di
dalamnya. Slogan baiti jannati
(rumahku surgaku) adalah harapan setiap keluarga termasuk saya sebagai penulis.
Rumah bagaikan Surga adalah tempat
bagi orang-orang yang baik, beramal sholeh penuh kebahagiaan dan ketentraman.
Tidak mudah menumbuhkan rumah seperti ini, namun semua itu akan terwujud jika
kita mau untuk bekerja keras.
Agama mengajarkan bagi kita
cara-cara kebaikan dan menenangkan hati. Dengan fondasi agama yang kuat dalam
rumah, maka seluruh angota keluarga akan senantiasa melakukan kebaikan,
sehingga akan terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Pada akhirnya
kebaikan akan mudah untuk didapat. Hidup bagai roda berputar, tak selamanya di
atas tak selamanya di bawah. Tak selamanya berada dalam kesenagan, suatu saat
masanya kita juga akan bersedih.
Ujian dan cobaan adalah rasa manis
untuk proses kehidupan yang lebih baik. Dengan ujian, kita dapat mengentropeksi
diri kesalahan dan kelemahan diri sehingga menjadi lebih baik. Ujian juga
sebagai perantara peringatan dari Allah agar melakukan segala hal itu sesuai
dengan syaiat Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.
Upaya mendekatkan diri kepada Allah
dapat dimulai dengan mengajak anggota keluarga untuk lebih mendekatkan diri
kepada Allah bersama-sama disaat suka maupun duka. Mulai sekarang, bersama-sama
keluarga kita berhati-hatilah dalam berucap, mendengar dan dalam segala hal.
Perjalanan
Kecil Meraih Mimpi
Penulis
Mahasiswa Insitut Agama Islam Negri Salatiga
Jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam
Puji
Lestari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar