Rabu, 24 Agustus 2016

Keluarga Adalah Ujian Nyata




Pernahkah mendengar kata bijak  bahwa “ hidup adalah perjuangan”, sejatinya memang benar bahwa hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk tetap dalam dekapan dan jalan sang Rahman, perjuangan agar tetap Istiqamah dalam jalan yang lurus dan perjuangan memanfaatkan dunia ini sebagai ladang penghasil amlan yang baik dan berguna bagi hidup kita.
Berbicara mengenai kehidupan tak akan jauh dari yang namanya cinta kepada Allah, cinta kepada Allah sangatlah penting dimiliki setia insan manusia karena dengan senatisa mencintai Allah maka amalan ibadah kita akan semakin giat dan semakin meningkat. Untuk apa kita hidup jika dalalam hatinya tidak mengingat ataupun mencintai Allah. Hidup didunia hanyalah sementara, tujuan hakikinya adalah dihidupkan oleh Allah maka ketika hidup akan mengabdi kepada Allah.
Ketika sudah mencintai Allah apapun akan kita lakukan untukNya, apapun perintahnya akan kita laksanakan dan apapun larangannya akan kita tinggalkan. Wujud kecintaaan hamba kepada Tuhannya dicontohkan oleh Baginda nabi Ibrahim as. Banyak sekali ujian dan cobaan yang datang kepada nabi Ibrahim namun Ia berhasil menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT walaupun keluarganya sekalipun.
Seperti yang telah diceritakan di dalam Al Quran bahwa nabi ibrahim sangat menantikan akan lahirnya seorang anak setalah menikah bartahun-tahun, hingga ia akhirnya menikahi pembantunya sendiri. Allhamdullilah akhirnya ia mendapatkan keturunan dari pembantunya ini, Siti Hajar namanya.
Kemudian setelah anaknya lahir, beberapa saat kemudian Allah memerintahkan untuk membawa anaknya yang masih bayi beserta istrinya ke sebuah padang tandus yang panas tanpa pepohonan. Betapa miris hati beliau dalam menjalankan perintah Allah ini, namun sekuat tenaga beliau tetap tegar menjalankan perintah ini.
Ia mengantarkan mereka ke padang dan meninggalkan keduanya, dengan derai air mata yang berlinang di pipinya, ia tetep menguatkan hati untuk meninggalkan keduanya di padang tandus. Ini karena cinta dan imannya kepada Allah lebih utama. Singkat cerita ketika sang bayi yang nabi Ibrahim beri nama Ismail mulai beranjak dewasa Allahpun menguji keimannanya lagi dan memerintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya ini. Perintah itu berawal dari mimpinya dan kemudian ia menyampaikannya kepada Ismail dan pada akhirnya Ismailpun menyanggupinya.
Nabi Ismail rela disembelih oleh ayahnya, hingga pada saat akan di sembelih Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengganti nabi Ismail dengan kambing  yang besar dan akhirnya kambing itulah yang disembelih oleh nabi Ibrahim. Peristiwa inilah yang menjadi sejarah terpenting dalam agama Islam dan menjadi titik awal diadakannya hari raya idul adha atau lebih populer dengan hari raya kurban.
Hal ini menunjukan bahwa nabi Ibrahim mendahulukan cintanya kepada Allah dibandingkan cintanya kepada keluarganya. Keluargan hanyalah titipan dari Allah, namun disini bukan berarti beliau menghilankan cintanya kepada keluarganya karena Allah, akan tetapi berarti bahwa ditengh-tengah cintanya kepada Allah, beliau juga mencintai keluarganya. Hanya saja cintanya kepada keluarganya berada terlingkup dalam cintanya kepada Allah.
Hal ini sebenarnya dalah ujian dari Allah bagi hambaNya untuk megetahui mana yang lebih dicintai oleh hamba-Nya. Dan dengan kisah tadi menunjukan bahwa nabi Ibrahim menunjukan kecintaanya kepada Allah dibandingan dengan keluarganya.
Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 24

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Ujian yang dialami nabi Ibrahim adalah tanda cinta Allah kepada UmatNya, keluarga pun menjadi cobaan dalam kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa rumah dalam membina keluarga menjadi surga bagi setiap insan.

 



            Rumah adalah tempat kita berteduh, tempat istirahat dan tempat berbagi perasaan baik suka maupun duka. Rumah adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa kita hindarkan. Rumah adalah tempat yang paling nyaman dan membuat kita bahagia dengan demikian spiritual tumbuh di dalamnya. Slogan baiti jannati (rumahku surgaku) adalah harapan setiap keluarga termasuk saya sebagai penulis.
            Rumah bagaikan Surga adalah tempat bagi orang-orang yang baik, beramal sholeh penuh kebahagiaan dan ketentraman. Tidak mudah menumbuhkan rumah seperti ini, namun semua itu akan terwujud jika kita mau untuk bekerja keras.
            Agama mengajarkan bagi kita cara-cara kebaikan dan menenangkan hati. Dengan fondasi agama yang kuat dalam rumah, maka seluruh angota keluarga akan senantiasa melakukan kebaikan, sehingga akan terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Pada akhirnya kebaikan akan mudah untuk didapat. Hidup bagai roda berputar, tak selamanya di atas tak selamanya di bawah. Tak selamanya berada dalam kesenagan, suatu saat masanya kita juga akan bersedih.
            Ujian dan cobaan adalah rasa manis untuk proses kehidupan yang lebih baik. Dengan ujian, kita dapat mengentropeksi diri kesalahan dan kelemahan diri sehingga menjadi lebih baik. Ujian juga sebagai perantara peringatan dari Allah agar melakukan segala hal itu sesuai dengan syaiat Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.
            Upaya mendekatkan diri kepada Allah dapat dimulai dengan mengajak anggota keluarga untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bersama-sama disaat suka maupun duka. Mulai sekarang, bersama-sama keluarga kita berhati-hatilah dalam berucap, mendengar dan dalam segala hal.
           

Perjalanan Kecil Meraih Mimpi
Penulis Mahasiswa Insitut Agama Islam Negri Salatiga
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Puji Lestari
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar