Senin, 29 Agustus 2016

Asal Muasal Dosa






Seperti diketahui, dosa itu bertingkat-tingkat derajat dan level kerusakannya
( mafsadah). Karena itulah maka hukuman yang bakal dituai di dunia dan akhirat itu juga bertingkat-tingkat tergantung sepenuhnya pada tingkatan dosa itu.
Di bawah sebuah penjelasan singkat tetapi menyeluruh tentang hal itu. Asal muasal dosa itu ada dua jenis: meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan Allah keduanya adalah dosa. Allah memuji nenek moyang manusia dan jin dengan kedua hal tersebut.
Keduanya terbagi menurut tempatnya pada dua hal pula.
1.      Dosa bersifat lahiriyah yang dikerjakan oleh anggota tubuh.
2.      Dosa bersifat batiniyah yang dikerjakan oleh hati.
Sementara terkait dengan hubungan dosa itu, juga terbagi menjadi dua hal:
1.      Dosa yang berhubungan dengan hak Allah.
2.      Dosa yang berhubungan dengan hak makhluk.
Walaupun pada hakikatnya hak makhluk itu sudah tercakup dalam hak Allah, akan tetapi disini di sebut hak makhluk karena kalau seseorang melakukan dosa yang berkaitan dengan hak makhluk, maka dia harus memperoleh maaf berkenaan dari makhluk tersebut. Dosa it akan hilang dengan perkenaan atau maaf mereka.
            Kemudia dosa-dosa tersebut dibagi dalam empat hal:
1.      Dosa yang bersifat kekuasaan.
2.      Dosa yang berhubungan sifat syetan.
3.      Dosa yang bersifat hewan buas.
4.      Dosa yang bersifat dengan hewan buas.
Dosa yang Langsung Terkait dengan Allah (Malakiyah)
Dosa yang berhubungan dengan kekuasaan Allah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak sah baginya terkait dengan sifat-sifat ketuhanan, seperti keagungan, kebesaran, kemaha rajaan, kemaha kuasaan, kemaha tinggian, ketundukan makhluk dan lain sebagainya.
            Termasuk dalam hal ini adalah dosa sirik kepada Allah. Syirik kepada Allah itu ada dua jenis:
a.       Syirik pada nama dan sifat-sifat-Nya sehingga dia menciptakan Tuhan yang lain.
b.  Berlaku syirik dalam berhubungan denga-Nya. Syirik jenis ini tidak mesti menjerumuskan seseorang kedalam neraka. Akan tetapi yang pasti, seluruh amal yang dikerjakan dalam kerangka syirik ini akan menguap laksana diterpa angin karene dia memperuntukan ibadahnya kepada Allah dan selainya. Jenis ini adalah jenis dosa yang paling besar. Termasuk dalam hal ini juga adalah berbicara tentang Allah yang tidak diketahui seperti tentang penciptaan dan perintah-Nya. Siapa yng mengerjakan dosa ini, dia telah menentang ketuhanan dan kekuasaan Allah, dia membuat sekutu bagi-Nya. Ini adalah jenis dosa yang paling besar disisi Allah dan tidak ada satu amal kebaikan pun yang bermanfaat kalau dalam hatinya ada syirik sejenis ini.
Dosa yang Bersifat Setan (Setaniyah)
Dosa yang berkaitan dengan sifat setan adalah dalam benuk menyurupakan diri setan. Contuhnya adalah sifat dengki membangkang, melakukan tipu daya, berdusta, siasat licik, memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, dengan cara menyulap maksiat itu kelihatan elok, melarang ketaatan kepada Allah dan menakut-nakuti akan hal itu, melakukan perbuatan bid’ah dan kesesatan.
            Jenis dosa ini rengking pertama dalam tataran melahirkan mafsadah. Walaupun sebenarnya efek kerusakanya masih dibawah jenis dosa pertama.
Dosa yang berkaitan dengan sifat hewan buas
            Dosa yang berkaitan dengan hewan buas contohnya adalah seperti bermusuhan, marah-marah, menumpahkan darah, melakukan tindakan semena-mena kepada orang yang lemah dan terpuuk. Sehingga dari sana munculah berbagai tindakan menyakiti manusia, perlakuan zalim serta permusuhan.
Dosa yang berkaitan dengan sifat hewan ternak
            Dosa yang berkatan dengan hewan ternak adalah sepeti ketamakan dan kerakusan dalam memuaskan syahwat perut dan kemaluan. Dari jenis perbuatan ini munculah perbuatan zina, mencuri, memakan harta anak yatim, pelit, kikir, penakut, berkeluh kesah dsb.
            Jenis dosa yang disebut terakhir ini merupakan banyakan sebab musabab dosa manusia karena mereka tidak masuk dalam kategori dosa yang berkaitan dengan kekuasaan Tuhan dan dosa yang berkaitan dengan setan. Ada juga segolongan manusia yang masuk dalam semua jenis dosa tersebut.
            Dia berlaku melampaui batas dengan terjebak dalam dosa-dosa tersebut. Dimulai dari dalam dosa yang bersifat hewan buas kemudian dosa yang bersifat setan dan beralih pada penentengan terhadap kekuasaan Tuhan dan kesyirikan terhadap keEsaan Allah.
            Siapa yang mrenungkan ini dengan sesakama maka jelaslah baginya bahwa dosa-dosa bisa mengantarkan seseorang pada kesyirikan, kekafiran dan penentangan kekuasaan Allah.
Dosa besar dan dosa kecil
            Al-Quran, Sunnah dan kesepakatan sahabat, tabi’in, dan kalangan iman telah menunjukan bahwa dosa terbagi dua: besar dan kecil. Allah berfirman dalam Qs An-nisa 31.

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا


Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

 firman Allah Q.S an-Najm 32


الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ


(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

            Dalam kitab shahih rasulullah SAW bersabda:
“sesungguhnya shalat lima waktu, antara satu jumat dengan jumat berikutnya dan antara satu ramadhan dengan ramadhan berikutnya, merupakan penghapus dosa-dosa antara keduanya sepanjang dia menjauhi dosa besar.”
Seluruh amal yang bis amengahpuskan dosa itu dalam tiga drajat:
1.      Amal tersebut sebatas menghapus dosa-dosa kecil, misalnya dosa kecil yang berkaitan kelemahan amal, kelemahan keikhlasan dalam mengerjakan amal dan kelemahan dalam mengerjakan hak-hak amal itu secara memadahi. Sehingga amal-amal tersebut bisa diserupakan dengan obat kecil yang tidak bisa menanggulangi penyakit karena tidak sejajar dengan kualitas dengan kuantitas penyakit itu sendiri.
2.      Amal tersebut bisa menggulangi dosa-dosa kecil, akan tetapi sam sekali tidak berdaya untuk menghapus dosa-dosa besar.
3.      Amal tersebut cukup kuat untuk menaggulangi dan mengahapus dosa-dosa kecil dan didalamnnya masih tersisa kekuatan untuk menghapus sebagian dosa besar. 
rrenungkanlah hal ini dengan cermat. Kalau anda sudah memahaminya maka anda tidak akan mengalami kemuskilan besar.
 
      Dalam kitab shahih al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“ jauhilah tujuh hal yang bisa merusak.” Para sahabat bertanya ; apa saja itu wahai Rasul? Beliau menjawab, “ syirik kepada Allah, Shihir, membunuh jiwa yang telah diharmkan Allah tanpa alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, berlari pada hari peperangan, menuduh berzina perempuan yang suci jauh dari perbuatan buruk dan beriman”.
Dalam kitab shahih al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya.; “ apa dosa yang paling besar disisi Allah wahai Rasulullah Saw? Beliau menjawab” apabial engkau menyebutkan adanya sekutu bagi Allah padahal Dia yang telah menciptkanmu. “
Ditanyakan:
“ lantas apalagi wahai Rasulullah?” beliau menjawab “apa bila engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.”
Ditanyakan lagi:
“lantas apalagi wahai Rasulullah?” beliau menjawab “ apabila engkau berzina dengan istri tetanggamu”



Penulis
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Puji Lestari

Kamis, 25 Agustus 2016

DOA ITU SEGALANYA


           

Sudah selakyaknya kita berdoa kepada-Nya disaat sempit maupun lapang, disaat susah maupun senang, di saat sehat maupun sakit. Hamba yang mempunyai kekuatan berdoa tentu tidak akan risau, gelisah, khawatir was-was dsb.
            Doa adalah melatih kesabaran, didalam kebuntuan hidup dan himpitan permasalahan. Keinginan-keinginan selalu kita panjatkan lewat doa. Berbicara mengenai doa, tidak semua doa bisa dikabulkan. Semua adalah hak Allah, apapun dan kapanpun doa kita akan diijabah atau mungkin ada doa yang Allah tangguhkan untuk dikabulkan, karena Allah Maha Mengetahui apakah sesuatu itu baik atau buruk untuk hamba yang memohonnya.
            Allah adalah Dzat Maha Pemurah, maka jika ingin doa dikabukan berdoalah dengan sungguh-sungguh, lakukan apa yang menjadi perintah-Nya dan jauhi pula apa yang menjadi larangan-Nya.
            Ketika kita sadar dengan beribu dosa yang telah kita lakukan , maka segeralah bergegas memohon ampunan-Nya dan untuk mendapatkan ampunan dari-Nya memerlukan doa sebagai perantaranya.
            Doa adalah otak ibadah, setiap saat dalam kehidupan kita tidak akan dapat terlepas dari doa yang senantiasa kita panjatkan. Dengan pengharapan yang penuh terhadap terkabulnya doa dari Allah Swt maka menjadi motivasi agar kita lebih giat dala beribadah kepada-Nya.

Allah berfirman





 "Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintab)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) 

ayat tersebut juga dikuatkan dengan hadis Nabi  Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia menceritakan, ketika kami bersama Rasulullah dalam suatu peperangan, kami tidak mendaki tanjakan, menaiki bukit, dan menuruni lembah melainkan dengan mengumandangkan takbir. Kemudian beliau mendekati kami dan bersabda, “Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Dzat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdo’a kepada Rabb yang Mahamendengar lagi Mahamelihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian dari pada leher binatang tunggangannya. Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari sebuah kalimat yang termasuk dari perbendaharaan surga? Yaitu: laa haula walaa quwwata illaa billaaHi (Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolongan Allah).”
Hadits tersebut diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim serta beberapa periwayat lainnya, dari Abu Utsman an-Nahdi.
            Ayat dan hadis tersebut menjelaskan kepada kita bahwa untuk terkabulnya doa hendaknya kitapun harus memenuhi seruan Allah untuk selalu bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan perintahn-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar kita selamat dari marabahaya dan tetap berada di jalan yang lurus.


            Allah sangatlah mengetahui apa yang terjadi terhadap hamba-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Tetapi walaupun begitu Allah memberikan tuntuna kepada hamba-Nya berdoa, kebutuhan berdoa adalah sepenuhnya untuk kepentingan manusia, karena doa manusia tidak akan mengurangi atau melebihi kemuliaan dan kekuasaan yang Allah miliki.
            Doa seharusnya dipanjatkan kepada Allah dengan kesunguhan hati dan pikiran yang konsenterasi, dengan kesungguhan ini kita berharap sepenuh hati Allah ridha mengabulkan doa kita.
            Perasaan takut dalam menyampaikan doa dan dengan suara yang lirih, mengiba kepada Allah untuk terkabulkanya doa, perasaan cemas doa kita tidak dikabulkan Allah, takut Allah murka atas doa kita. Doa adalah rintihan doa qalbu hamba terhadap sang penciptanya. Doa adalah jembatan yang menghubungkan seorang hamba dengan kasih sayang-Nya. Maka berdoalah dengan menghadapkan wajah yang penuh rasa cemas dan penuh harap kepada Allah Swt, rasa cemas karena ketakutan kita akan tidak terkabulnya doa sebab banyaknya dosa-dosa kita.
            Doa adalah rintihan jiwa, jeritan batin seorang hamba terhadap sang Khaliq yang menciptakanya. Ketakutan yang besar akan kepantasan kita mengetuk ampunan-Nya, pertolongan-Nya,dan kasih sayang-Nya membuat diri ini cemas dan penuh harap. Maka segera dekati Allah dengan taubat kita. Dekati Allah dengan ketaatan kita menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
            Doa adalah kunci harapan seorang hamba terhada Rabb-nya. Dengan berdoa kita mempunyai harapan atas semua yang kita sampaikan di dalam doa. Kita berharap ampunan-Nya, dan juga berharap pertolongan serta kasih sayang-Nya. Dengan berdoa kita mengoptimalkan getaran hati kita akan kebutuhan dan ketergantungan kita terhadap Sang Pencipta.
            Adap berdoa yang harus paling kita perhatikan adalah kekuatan kita berendah hati, kekuatan kita menghinakan diri di hadapan Allah bahwa kita adalah hamba yang lemah penuh dosa yang membutuhkan ampunan dan prtolongan-Nya.
            Allah sangatlah dekat dengan hamba-Nya dan Allah mengabulkan doa hambanya yang berdoa kepada-Nya. Allah senantiasa membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba yang datang memohon ampunan-Nya dan Allah senantiasa membuka pintu Rahmat dan kasih sayang-Nya bagi hamba yang datang mengiba kepada-Nya. Sungguh Allah Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersegera diri menegadahkan kedua tangan beroa dan memohon apa yang apa yang kita inginikan.
Penulis
Anak Asuhan  Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 5
Puji Lestari

 


Rabu, 24 Agustus 2016

Keluarga Adalah Ujian Nyata




Pernahkah mendengar kata bijak  bahwa “ hidup adalah perjuangan”, sejatinya memang benar bahwa hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk tetap dalam dekapan dan jalan sang Rahman, perjuangan agar tetap Istiqamah dalam jalan yang lurus dan perjuangan memanfaatkan dunia ini sebagai ladang penghasil amlan yang baik dan berguna bagi hidup kita.
Berbicara mengenai kehidupan tak akan jauh dari yang namanya cinta kepada Allah, cinta kepada Allah sangatlah penting dimiliki setia insan manusia karena dengan senatisa mencintai Allah maka amalan ibadah kita akan semakin giat dan semakin meningkat. Untuk apa kita hidup jika dalalam hatinya tidak mengingat ataupun mencintai Allah. Hidup didunia hanyalah sementara, tujuan hakikinya adalah dihidupkan oleh Allah maka ketika hidup akan mengabdi kepada Allah.
Ketika sudah mencintai Allah apapun akan kita lakukan untukNya, apapun perintahnya akan kita laksanakan dan apapun larangannya akan kita tinggalkan. Wujud kecintaaan hamba kepada Tuhannya dicontohkan oleh Baginda nabi Ibrahim as. Banyak sekali ujian dan cobaan yang datang kepada nabi Ibrahim namun Ia berhasil menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT walaupun keluarganya sekalipun.
Seperti yang telah diceritakan di dalam Al Quran bahwa nabi ibrahim sangat menantikan akan lahirnya seorang anak setalah menikah bartahun-tahun, hingga ia akhirnya menikahi pembantunya sendiri. Allhamdullilah akhirnya ia mendapatkan keturunan dari pembantunya ini, Siti Hajar namanya.
Kemudian setelah anaknya lahir, beberapa saat kemudian Allah memerintahkan untuk membawa anaknya yang masih bayi beserta istrinya ke sebuah padang tandus yang panas tanpa pepohonan. Betapa miris hati beliau dalam menjalankan perintah Allah ini, namun sekuat tenaga beliau tetap tegar menjalankan perintah ini.
Ia mengantarkan mereka ke padang dan meninggalkan keduanya, dengan derai air mata yang berlinang di pipinya, ia tetep menguatkan hati untuk meninggalkan keduanya di padang tandus. Ini karena cinta dan imannya kepada Allah lebih utama. Singkat cerita ketika sang bayi yang nabi Ibrahim beri nama Ismail mulai beranjak dewasa Allahpun menguji keimannanya lagi dan memerintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya ini. Perintah itu berawal dari mimpinya dan kemudian ia menyampaikannya kepada Ismail dan pada akhirnya Ismailpun menyanggupinya.
Nabi Ismail rela disembelih oleh ayahnya, hingga pada saat akan di sembelih Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengganti nabi Ismail dengan kambing  yang besar dan akhirnya kambing itulah yang disembelih oleh nabi Ibrahim. Peristiwa inilah yang menjadi sejarah terpenting dalam agama Islam dan menjadi titik awal diadakannya hari raya idul adha atau lebih populer dengan hari raya kurban.
Hal ini menunjukan bahwa nabi Ibrahim mendahulukan cintanya kepada Allah dibandingkan cintanya kepada keluarganya. Keluargan hanyalah titipan dari Allah, namun disini bukan berarti beliau menghilankan cintanya kepada keluarganya karena Allah, akan tetapi berarti bahwa ditengh-tengah cintanya kepada Allah, beliau juga mencintai keluarganya. Hanya saja cintanya kepada keluarganya berada terlingkup dalam cintanya kepada Allah.
Hal ini sebenarnya dalah ujian dari Allah bagi hambaNya untuk megetahui mana yang lebih dicintai oleh hamba-Nya. Dan dengan kisah tadi menunjukan bahwa nabi Ibrahim menunjukan kecintaanya kepada Allah dibandingan dengan keluarganya.
Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 24

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Ujian yang dialami nabi Ibrahim adalah tanda cinta Allah kepada UmatNya, keluarga pun menjadi cobaan dalam kehidupan ini, tak dapat dipungkiri bahwa rumah dalam membina keluarga menjadi surga bagi setiap insan.

 



            Rumah adalah tempat kita berteduh, tempat istirahat dan tempat berbagi perasaan baik suka maupun duka. Rumah adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa kita hindarkan. Rumah adalah tempat yang paling nyaman dan membuat kita bahagia dengan demikian spiritual tumbuh di dalamnya. Slogan baiti jannati (rumahku surgaku) adalah harapan setiap keluarga termasuk saya sebagai penulis.
            Rumah bagaikan Surga adalah tempat bagi orang-orang yang baik, beramal sholeh penuh kebahagiaan dan ketentraman. Tidak mudah menumbuhkan rumah seperti ini, namun semua itu akan terwujud jika kita mau untuk bekerja keras.
            Agama mengajarkan bagi kita cara-cara kebaikan dan menenangkan hati. Dengan fondasi agama yang kuat dalam rumah, maka seluruh angota keluarga akan senantiasa melakukan kebaikan, sehingga akan terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Pada akhirnya kebaikan akan mudah untuk didapat. Hidup bagai roda berputar, tak selamanya di atas tak selamanya di bawah. Tak selamanya berada dalam kesenagan, suatu saat masanya kita juga akan bersedih.
            Ujian dan cobaan adalah rasa manis untuk proses kehidupan yang lebih baik. Dengan ujian, kita dapat mengentropeksi diri kesalahan dan kelemahan diri sehingga menjadi lebih baik. Ujian juga sebagai perantara peringatan dari Allah agar melakukan segala hal itu sesuai dengan syaiat Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.
            Upaya mendekatkan diri kepada Allah dapat dimulai dengan mengajak anggota keluarga untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bersama-sama disaat suka maupun duka. Mulai sekarang, bersama-sama keluarga kita berhati-hatilah dalam berucap, mendengar dan dalam segala hal.
           

Perjalanan Kecil Meraih Mimpi
Penulis Mahasiswa Insitut Agama Islam Negri Salatiga
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Puji Lestari