Minggu, 08 Mei 2016

BAHAYA LISAN

Sungguh menakjubkan masalah lisan ini. Meskipun bentuknya kecil, tetapi ia mampu mencerminkan zat manusia, mengisyaratkan isi manusia dan tingkatan mereka dalam segi seni dan peradaban, derajat akal dan pikiran, pengalaman hidup secara umum, serta kemampuan dan kecerdasan mereka.
Lisan telah banyak menjatuhkan umat manusia ke dalam kehancuran, telah banyak menyeret barisan tentara ke dalam jurang kemusnahan dan banyak membinasakan kehidupan sosial manusia. Sungguh menakjubkan orang-orang yang tertimpa kebinasaan akibat lisan mereka dan tidak mampu mengendalikan dan mengarahkannya.  Sebenarnya manusia adalah makhluk yang telah dianugerahi akal yang dapat membedakan yang benar dan yang salah. Manusia juga telah diberi anggota tubuh yang dapat dipergunakan. Dengan demikian, kebinasaan ini seharusnya dapat dihindari dengan pengendalian nafsu dan kecenderungannya, sehingga dia dapat mengendalikan ucapannya.
Sungguh menakjubkan, bahwa seorang manusia bisa meningkatkan derajatnya ditengah-tengah manusia lainnya dan menetapkan kedudukannya di tengah-tengah mereka hanya dengan perantaraan lisan. Tidak setiap orang yang terkenal memiliki perbendaharaan ilmu dan materi, tetapi sebagian besar mereka memiliki pengetahuan tentang bahaya-bahaya lisan, sehingga mereka dapat menjaga lisannya untuk tidak bergerak tanpa makna. Dengan begitutanpaklah pada diri mereka kesempurnaan dan keindahan insani, lalu sampailah dia kepada derajat yang tinggi di tengah-tengah manusia.
Lisan memiliki kedudukan tersendiri di antara anggota tubuh lainnya. Lisan bisa menjadi bencana bagi pemiliknya jika dia berlaku buruk saat menggunakannya. Tetapi, lisan pun bisa menjadi nikmat yang besar dan anugerah yang agung jika dia bisa menggunakannya dengan baik.
Syekh Imam Ghazali mengatakan bahwa lisan adalah nikmat Allah yang besar dan termasuk kelembutan ciptaan-Nya yang menakjubkan. Lisan yang bentuknya kecil, ketaatan dan pengingkarannya bisa besar. Kejelasan antara kufur dan iman tidak dapat diketahui hanya dengan persaksian lisan, iman dan kufur ini sebagai simbol ketaatan dan kemaksiatan.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Sofyan dari ayahnya, bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang islam, sehingga aku tidak akan menanyakannya kepada kepada orang lain selainmu.” Beliau berkata, “Katakanlah,’Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” Dia berkata, “Bagaimana aku memeliharanya?” Beliau memberi isyarat kepada lisannya.”
Diriwayatkan dari Al-Barra’ dari ‘Azib, dia berkata, “seseorang Arabi datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan sehingga aku dapat masuk surga.’ Beliau berkata, ‘Berilah makan kepada orang yang lapar, berilah minum kepada orang yang haus, cegahlah kemungkaran, jika tidak kuat, jagalah lisanmu kecuali untuk yang baik.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. pernah meletakkan tongkat dimulutnya untuk menjaga ucapannya. Lalu dia menunjuk lisannya seraya berkata, “Inilah yang dapat mengeluarkannku dari tempat-tempat keluar” (keluar dari batas-batas kebenaran).
Jika ada yang bertanya, mengapa kedudukan dan keutamaan ini diberikan kapada “diam”? maka hendaklah dia mengetahui bahwa penyebab bencana lisan senagian besar adalah kebohongan, ghibah (menggunjing), namimah (menebar fitnah atau mengadu domba), riya, munafik, kekejian dan keangkuhan, mengkultuskan diri, hanyut dalam kebatilan, permusuhan, kesombongan, mengubah perkataan (menambah atau mengurangi), menykiti orang lain, membuka aurat dan lain-lain. Semua bencana itu didahulu oleh lisan. Sebenarnya bencana ini merupakan tabiat dari setan. Setan selalu merasukkaknnya ke dalam dada manusia dan membuat mereka melakukan sampai keterlanjuran, lupa akan batas-batas kebaikan dan keburukan. Hanya sedikit manusia yang mampu mengendaliakn lisannya sehingga dia mampu mengeluarkan kata-kata yang disukai dan mengekang kata-kata yang tidak disukai.
Di salam keterlanjuran terdapat bahaya, sedangkan di dalam diam terdapat keselamatan. Karena itu, diam sangatlah besar keutamaannya. Di dalam diam terdapat kesinambungan perangai dan watak yang baik untuk berpikir dan berzikir. Allah telah mengingatkan dengan firman-Nya dalam surat Qaf ayat 18 :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)

Ayat ini mengisyaratkan keutamaan diam. Masalah yang kita bahas ini adalah ucapan yang mencakup empat bagian, yaitu ucapan yang mengandung bahaya mutlak, ucapan yang mengandung manfaat mutlak, ucapan yang mengandung bahaya dan manfaat, serta ucapan yang tidakmengandung bahaya dan manfaat.

 

Tidak diragukan lagi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang dapat menjaga ucapannya dari bencana-bencana lisan, seperti ghibah (menggunjing), namimah (menebar fitnah atau mengadu domba), dusta, sombong, dan lain-lain. Kita juga hanya bisa berbicara dengan ucapan yang dibolehkan, yang tidak mengandung bahaya bagi kita dan bagi muslim lainnya. Seandainya kita bertahlil dan berzikir kepada Allah SWT, tentu itu lebih baik bagi kita. Dengan begitu, banyak ucapan kita yang akan membangun istana di surga.
Modal seorang hamba dalah waktu. Seandainya dia menggunakan waktu itu untuk hal-hal yang tidak berguna dan tidak menabung untuk akhirat, berarti dia telah menyia-nyiakan modalnya. Rasulullah saw pernah bersabda di dalam sebuah hadisnya, “Sebagian dari tanda kebaikan islam seseorang ialah bila dia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan.”
Pernah dikatakan kepada Luqmanul Hakim, “Apa hikmahmu?” Dia mengatakan, ”Aku tidak meminta balasan atas apa yang aku tidak perlukan.”
Hendaknya kita perlu membatasi perkataan yang tidak diperlukan, yaitu perkataan yang tidak akan menimbulkan dosa maupun bencana jika hal itu tidak diucapkan. Selain itu, yang termasuk bahaya lisan adalah mengajukan pertanyaan yang kurang tepat. Kita bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang sebenarnya kita tidak perlukan. Hal itu berarti kita telah membuang waktu sekaligus telah menyeret orang yang kita tanyai untuk menyia-nyiakan waktunya dengan menjawab pertanyaan yang tidak kita perlukan.
Lebih buruk lagi pertanyaan itu berkenaan dengan masalah ibadahnya, misalnya kita bertanya kepada seseorang, “Apakah Anda sedang berpuasa?” jika dia menjawab, “ Ya,” berarti dia telah menampakkan ibadahnya. Dalam hal seperti ini akan masuklah riya ke dalam jiwanya, maka gugurlah ibadahnya dari tabung kerahasiaan, padahal ibadah yang dirahasiakan itu lebih utama beberapa derajat daripada ibadah yang tampak. Tetapi jika dia mengatakan “Tidak,” padahal sebenarny dia sedang berpuasa, berarti dia telah berbohong. Jika dia tidak menjawab, dia akan merasa kurang hormat bahkan hal itu termasuk perbuatan tercela. Ketika berusaha untuk menjawab, akan terjadi pergolakan di dalam jiwanya karena dia berhadapan dengan pertanyaan yang menyeretnya kepada riya, atau bohong, ataupun tercela. Demikian juga pertanyaan yang berhubungan dengan masalah kemaksiatan serta hal-hal yang tersembunyi dari orang lain, hal itu harus dihindari.
Berlebih-lebihan dalam Berbicara.
Berlebih-lebihan dalam berbicara adalah sifat yang tercela dan termasuk bencana lisan. Hal ini misalnya seseorang yang memperdalam kata-kata yang tidak bermanfaat atau berlebih-lebihan dalam mengungkapkan sesuatu, meskipun itu bermanfaat bagi dirinya. Kadang-kadang sesuatu yang sebenarnya dapat diungkapkan dengan kalimat yang ringkas dia ulang sampai beberapa kali. Pengulangan inilah yang merupakan kelebihan yang tidak berguna.
Perkataan yang berlebih-lebihan itu tidak terbatas jumlahnya. Oleh karena itu yang terpenting adalah mengetahui batasan yang diisyaratkan oleh Allah SWT , seperti dalam firman-Nya surat An-Nisa’ ayat 114 :
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
Rasulullah saw juga mengingatkan dalam sabdanya, “Berbahagialah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan apa-apa yang kelebihan dari hartanya”.
Betapa sering hal ini terjadi pada diri manusia, maka hendaknya kia memanfaatkan kelebihan harta dan menghindari kelebihan lisan.  Al-Hasan mengatakan, “Barangsiapa yang banyak omongannya, maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang buruk perilakunya berarti dia lemah jiwanya.”
Bercakap-cakap dalam Kebatilan.
Bercakap-cakap dalam kebatilan adalah berbicara dalam kemaksiatan, seperti menceritakan seseorang. Memang sebagian besar manusia sangat senang mendengarkan perkataan yang isinya tidak lebih dari lelucon atau bahkan termasuk kebatilan. Jinis-jenis kebatilan beraneka ragam, demikian pula bahayanya. Karena itu tidak ada cara untuk menyelamatkan diri kita kecuali dengan membatasi dan mengambil secukupnya yang diperlukan saja, yaitu yang berupa kepentingan agama dan urusan dunia yang memang diperlukan.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang itu niscaya bercakap-cakap dengan kalimat yang buruk yang termasuk dalam hal-hal yang dimurkai Allah, sedang dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakannya tadi sampai kesuatu tingkat (yang dimurkai), kemudian dengan ucapannya iu dia dicatat untuk memperoleh kemurkaan Allah sampai hari kiamat.”
Berbantah-bantahan dn Bertengkar.
Berdebat dan bertengkar adalah perbuatan yang terlarang dan orang tidak dapat melakukannya kecuali dengan orang lain dalam suatu kondisi yang dirasanya benar.
Rasulullah saw mengingatkan dalam sabdanya, “Janganlah engkau mengucapkan bantahan kepada saudaramu, janagn mengerjakan senda gurau dan jangan berjanji untuk memenuhi suatu perjanjian kemudian engkau mengingkarinya.”
Dalam sabda beliau yang lain disebutkan, “Tidaklah suatu kaum itu menjadi sesat setelah diberi petunjuk oleh Allah, melainkan disebabkan mereka itu suka berbantah-bantahan.”
Perkataan yang akan menimbulkan pertengkaran adalah ungkapan dengan maksud menjatuhkan orang lain, melemahkan atau menurunkan martabatnya dengan keburukan perkataannya, atau menuduhnya sebagai orang-orang yang dangkal pengetahuannya dan bodoh dalam masalah yang sedang dibicarakan.
Bermusuhan.


Sebuah hadis yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadis gharib, dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Cukuplah bagi kamu untuk tidak selalu bertengkar.”
Asy-Syafi’i mengatakan dalam bukunya Al-Umm tentang sahabat Ali, bahwa dia pernah mewakilkan pertengkarannya padahal saat itu dia hadir disitu. Dia mengatakan “Sesungguhnya pertengkaran itu mengandung keburukan, dan setan selalu datang pada setiap keburukan.”

Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga

Puji Lestari

PERLUKAH ADANYA ULANG TAHUN?









Kata orang, peristiwa terpenting dalam peradaban manusia ada 3 : kelahiran, pernikahan, dan kematian. Kelahiran dianggap penting untuk diingat karena ia pangkal sejarah hidup. Keindahan mentari pagi, keagungan cakrawala, kelembutan seorang ibu, dan keangkuhan seorang diktator hanya bisa kita rasakan ketika hidup. Dan kelahiranlah yang membuka pintu gerbang itu.
Pernikahan juga dianggap  peristiwa besar karena saat itu terjadi kehidupan baru. Dikatakan kehidupan baru karena ia akan memasuki “alam lain” yang tak terbayangkan sebelumnya. Ibaratnya, sepasang mempelai adalah seperti bayi yang tak pernah membayangkan kehidupan didunia.
Peristiwa besar lainnya adalah kematian. Kematian dianggap penting karena ukuran baik buruknya seseorang tergantung pada saat kematian. Sebaik apapun sejarah hidupnya, jika saat kematian yang melakukan pengingkaran, dicap su’ul khatimah. Demikian pula sebaliknya. Sekalipun raport hidupnya berlepotan dosa, tapi saat naza’ (peristiwa pencabutan roh) ia bertobat, maka kita menyebutnya khusnul khatimah.
Pembicaraan kita kali ini adalah tentang peristiwa besar pertama, kelahiran. Sebagaimana kita maklumi, seluruh perjalanan hidup dimulai dari kelahiran. Oleh karena itu, banyak tradisi, bahkan ritus, yang didasarkan pada natalitas (kelahiran). Walimatul wiladah, aqiqah, peringatan Maulid Nabi, dan hari natal adalah beberapa contoh konkretnya.
Melihat realitas diatas, barangkali kita sepakt bahwa peringatan hari lahir (atau ulang tahun) sudah dikenal oleh adat maupun agama. Lalu, apa masalahnya? Inilah yang hendak kita cermati. Pertama, kita akan bertanya mengapa agama secara subtansial mengesahkan peringatan hari lahir (ulang tahun). Kedua, apa misi (atau pesan moral) yang hendak disampaikan. Ketiga, bagaimana bentuk acara yang diridhoi oleh syara’.
Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita memulai merujuk pada surat Maryam : 15

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Ketika memberi notasi terhadap ayat ini , Ibnu ‘Uyainah mengatakan adalah kondisi yang paling mengkhawatirkan (kritis) bagi seseorang adalah ketika iabaru dilahirkan,  ketika meninggal dunia dan ketika dibangkitkan dialam masyhar ( alam yang menyatukan seluruh manusia, dari yang pertama hingga yang terakhir)
Dahulu nabi Yahya berhasil lahir kedunia dengan selamat( secara fisik tidak cacat dan secara mental tidak di ganggu setan), maka Allah memberi ucapan kepadanya.( Abu Ja’far Muhammad abn al- Thabrani, tafsir al jami’ul al- Bayan, Beirut)

Ucapan selamat atas kelahiran juga pernah dikatakan Nabi Isa kepada dirinya sendiri. 

Firman Allah QS Maryam 33

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Apa yang dikehendaki oleh surat ini memang masih menjadi perdebatan. Yang jelas, sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil untuk mengesahkan selamat natal( selamat ulang tahun)
Jika demikian ,maka pesan moral yang hendak disampaikan dengan adanya ulang tahun adalah untuk mengenang dan mensyukuri peristiwa besar kelahiran kita, dimana saat itu  terjadi tarik-menarik antara bisikan( kebenaran) dari Allah dan bisikan( kejahatan) dari setan.
Bagaimana bentuk syukur untuk ulang tahun kita?. Pada suatu kesempatan , seorang A’rabi (orang kampung) bertanya kepada Rasul tentang puasa hari senin, Rasulpun menjawab
.......(bagus) itu hari kelahiranku dan hari aku menerima wahyu.
Berdasarkan hadis ini, secara implisit kita akan menemukan kausalitas hukum disunnshkaannya puasa senin karena hari itu hari kelahiran nabi. Jika demikian, maka secara tidak langsung Rasul mengajarkan untuk memperingati hari lahir dengan berpuasa.
Lantas mengapa harus berpuasa? Secara filosofis , jabang bayi yang baru lahir adalah suci. Tak satupun dosa menempel. Ini artinya hubungan antara dirinya dan Tuhan belum terkontaminasi (tercemar) dengan penghianatan apapun. Jika perayaan ulang tahun dimotifasi untuk kembali seperti semula (ketika baru lahir) maka petunjuk Nabi untuk memperingati hari lahir dengan berpuas sangat tepat. Sebab, di antara manfaat puasa adalah untuk membakar dosa agar kita dapat besanding kembali dengan Tuhan.
Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sekarang sangat marak terjadi? Untuk mengukur benar tidaknya , ada dua sudut pandang yang perlu di prlihatkan. Yang pertama, motivasi, yang kedua aksi. Yang dimaksud dengan moivasi adalah nilai (tujuan) yang hendak dicapai sehingga ia terdorong untuk melaksanakan ulang tahun. Sedangkan yang di maksud aksi di sini adalah bentuk kegiatan yang akan di adakan.
Kedua hal ini harus dibicarakan secara serius  karena ulang tahu adalah beba nilai. Ia tidak bisa membenarkan menyalahkan dirinya sendiri. Ulang tahun dikatakan benar apabila cara nya benar dan   motivasinya benar. Jika kurang satu salah satu, misalnya tujuannya benar tapi caranya salah dan sebaliknya, maka dengan tegas islam mengatakan ulang tahunnya salah.
Sabda Nabi
Barang siapa menghendaki suatu tujuan dengan cara maksiat, maka ia akan semakin jauh dari tujuan itu, dan semakin dekat dengan yang dikuatirkan.
Dari perjalanan ulang tahun, kita dapat menyatukan beberapa pemicunya ( motivasinya). Antara lain untuk mengikuti arus budaya, sebagai gengsi manusia modrn, dan sebaggian untuk komersialisme. Di samping itu ada pula ulang tahun yang bertujuan untuk bersyukur, minta doa keselamatan, dan intropeksi
Jika pelaksanaan ulang tahun adalah seperti tiga yang pertama, jelas saja ulang tahunnya tidak benar, sebab agama tidak mengajarkan tujuan serendah itu. Jika tujuannya seperti tiga yang terakhir, maka perlu dilihat bentuk aksinya. Jika aksinnya benar, maka ulang tahunnya benar, jika sebaliknya maka tidak benar.

Bagaimana bentuk aksi ulang tahn yang dibenarkan agama? Sesungguhnya banyak cara ulang tahun yang dibenarkan agama, misalnya berpuasa, hataman Al-Quran, bersedekah dsb. Yang jelas diharamkan adalah dansa,maksiaat dan mengamburkan harta dengan tidak membawa kemanfaatan dsb.  Masalah tiup lilinpun menjadi perdebatan dikalangan ulama. Budaya tiup lilin sebenarnya berasal dari budaya Eropa yang di semangati  oleh al kitab( injil). Maksud dari tiup lilin adalah sebagai simbol untuk melupakan segala duka dan dosa yang dilakukan. Misal saja ketika seseorang berumur 17 tahun maka lilin yang ditiup berjumlah 17 sebagai tanda melupakan duka yang ada.( data diperoleh dari wawancara dengan pastor)
Jika demikian, resiko terringan dari tiup lilin adalah menyerupai orang barat, atau bahka mengikuti injil. Jika tidak hati-hati, tindakan ini bisa menjerumuskan iman. Apalagi rata-rata peniup lilin itu hanya ikut-ikutan dan tidak tahu maksud yang sebenarnya. Maka Falyataammal menganjurkan untuk ditinggalkan.
Setiap diri punya pendapat yang berbeda-beda mengenai kedudukan ulang tahun, untuk itu penulis mengembalikan lagi pada keyakinan yang diangap lebih baik oleh tiap pembaca.

Referensi: Ibnu Majah, sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/1994 M.
                 Abu Zahram, Muhammad. Ushul Fiqh. Beirut: Dar al –fikr, tt.

Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis
Anak Asuhan  Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 4

Puji Lestari