Kata
orang, peristiwa terpenting dalam peradaban manusia ada 3 : kelahiran,
pernikahan, dan kematian. Kelahiran dianggap penting untuk diingat karena ia
pangkal sejarah hidup. Keindahan mentari pagi, keagungan cakrawala, kelembutan
seorang ibu, dan keangkuhan seorang diktator hanya bisa kita rasakan ketika
hidup. Dan kelahiranlah yang membuka pintu gerbang itu.
Pernikahan
juga dianggap peristiwa besar karena
saat itu terjadi kehidupan baru. Dikatakan kehidupan baru karena ia akan
memasuki “alam lain” yang tak terbayangkan sebelumnya. Ibaratnya, sepasang
mempelai adalah seperti bayi yang tak pernah membayangkan kehidupan didunia.
Peristiwa
besar lainnya adalah kematian. Kematian dianggap penting karena ukuran baik
buruknya seseorang tergantung pada saat kematian. Sebaik apapun sejarah
hidupnya, jika saat kematian yang melakukan pengingkaran, dicap su’ul khatimah. Demikian pula
sebaliknya. Sekalipun raport hidupnya berlepotan dosa, tapi saat naza’
(peristiwa pencabutan roh) ia bertobat, maka kita menyebutnya khusnul khatimah.
Pembicaraan
kita kali ini adalah tentang peristiwa besar pertama, kelahiran. Sebagaimana
kita maklumi, seluruh perjalanan hidup dimulai dari kelahiran. Oleh karena itu,
banyak tradisi, bahkan ritus, yang didasarkan pada natalitas (kelahiran).
Walimatul wiladah, aqiqah, peringatan Maulid Nabi, dan hari natal adalah
beberapa contoh konkretnya.
Melihat
realitas diatas, barangkali kita sepakt bahwa peringatan hari lahir (atau ulang
tahun) sudah dikenal oleh adat maupun agama. Lalu, apa masalahnya? Inilah yang
hendak kita cermati. Pertama, kita akan bertanya mengapa agama secara
subtansial mengesahkan peringatan hari lahir (ulang tahun). Kedua, apa misi
(atau pesan moral) yang hendak disampaikan. Ketiga, bagaimana bentuk acara yang
diridhoi oleh syara’.
Untuk
menjawab pertanyaan pertama, kita memulai merujuk pada surat Maryam : 15
Kesejahteraan
atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari
ia dibangkitkan hidup kembali.
Ketika memberi notasi terhadap ayat
ini , Ibnu ‘Uyainah mengatakan adalah kondisi yang paling mengkhawatirkan
(kritis) bagi seseorang adalah ketika iabaru dilahirkan, ketika meninggal dunia dan ketika
dibangkitkan dialam masyhar ( alam yang menyatukan seluruh manusia, dari yang
pertama hingga yang terakhir)
Dahulu nabi Yahya berhasil lahir
kedunia dengan selamat( secara fisik tidak cacat dan secara mental tidak di
ganggu setan), maka Allah memberi ucapan kepadanya.( Abu Ja’far Muhammad abn
al- Thabrani, tafsir al jami’ul al- Bayan, Beirut)
Ucapan selamat atas kelahiran juga
pernah dikatakan Nabi Isa kepada dirinya sendiri.
Firman Allah QS Maryam 33
Dan
kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari
aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Apa yang
dikehendaki oleh surat ini memang masih menjadi perdebatan. Yang jelas,
sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil untuk mengesahkan selamat
natal( selamat ulang tahun)
Jika
demikian ,maka pesan moral yang hendak disampaikan dengan adanya ulang tahun
adalah untuk mengenang dan mensyukuri peristiwa besar kelahiran kita, dimana
saat itu terjadi tarik-menarik antara
bisikan( kebenaran) dari Allah dan bisikan( kejahatan) dari setan.
Bagaimana
bentuk syukur untuk ulang tahun kita?. Pada suatu kesempatan , seorang A’rabi
(orang kampung) bertanya kepada Rasul tentang puasa hari senin, Rasulpun
menjawab
.......(bagus)
itu hari kelahiranku dan hari aku menerima wahyu.
Berdasarkan hadis
ini, secara implisit kita akan menemukan kausalitas hukum disunnshkaannya puasa
senin karena hari itu hari kelahiran nabi. Jika demikian, maka secara tidak
langsung Rasul mengajarkan untuk memperingati hari lahir dengan berpuasa.
Lantas
mengapa harus berpuasa? Secara filosofis , jabang bayi yang baru lahir adalah
suci. Tak satupun dosa menempel. Ini artinya hubungan antara dirinya dan Tuhan
belum terkontaminasi (tercemar) dengan penghianatan apapun. Jika perayaan ulang
tahun dimotifasi untuk kembali seperti semula (ketika baru lahir) maka petunjuk
Nabi untuk memperingati hari lahir dengan berpuas sangat tepat. Sebab, di
antara manfaat puasa adalah untuk membakar dosa agar kita dapat besanding
kembali dengan Tuhan.
Bagaimana
dengan pesta ulang tahun yang sekarang sangat marak terjadi? Untuk mengukur
benar tidaknya , ada dua sudut pandang yang perlu di prlihatkan. Yang pertama,
motivasi, yang kedua aksi. Yang dimaksud dengan moivasi adalah nilai (tujuan)
yang hendak dicapai sehingga ia terdorong untuk melaksanakan ulang tahun.
Sedangkan yang di maksud aksi di sini adalah bentuk kegiatan yang akan di
adakan.
Kedua hal
ini harus dibicarakan secara serius
karena ulang tahu adalah beba nilai. Ia tidak bisa membenarkan
menyalahkan dirinya sendiri. Ulang tahun dikatakan benar apabila cara nya benar
dan motivasinya benar. Jika kurang satu
salah satu, misalnya tujuannya benar tapi caranya salah dan sebaliknya, maka
dengan tegas islam mengatakan ulang tahunnya salah.
Sabda Nabi
Barang siapa
menghendaki suatu tujuan dengan cara maksiat, maka ia akan semakin jauh dari
tujuan itu, dan semakin dekat dengan yang dikuatirkan.
Dari
perjalanan ulang tahun, kita dapat menyatukan beberapa pemicunya (
motivasinya). Antara lain untuk mengikuti arus budaya, sebagai gengsi manusia
modrn, dan sebaggian untuk komersialisme. Di samping itu ada pula ulang tahun
yang bertujuan untuk bersyukur, minta doa keselamatan, dan intropeksi
Jika
pelaksanaan ulang tahun adalah seperti tiga yang pertama, jelas saja ulang
tahunnya tidak benar, sebab agama tidak mengajarkan tujuan serendah itu. Jika
tujuannya seperti tiga yang terakhir, maka perlu dilihat bentuk aksinya. Jika
aksinnya benar, maka ulang tahunnya benar, jika sebaliknya maka tidak benar.
Bagaimana
bentuk aksi ulang tahn yang dibenarkan agama? Sesungguhnya banyak cara ulang
tahun yang dibenarkan agama, misalnya berpuasa, hataman Al-Quran, bersedekah
dsb. Yang jelas diharamkan adalah dansa,maksiaat dan mengamburkan harta dengan
tidak membawa kemanfaatan dsb. Masalah
tiup lilinpun menjadi perdebatan dikalangan ulama. Budaya tiup lilin sebenarnya
berasal dari budaya Eropa yang di semangati
oleh al kitab( injil). Maksud dari tiup lilin adalah sebagai simbol
untuk melupakan segala duka dan dosa yang dilakukan. Misal saja ketika seseorang
berumur 17 tahun maka lilin yang ditiup berjumlah 17 sebagai tanda melupakan
duka yang ada.( data diperoleh dari wawancara dengan pastor)
Jika
demikian, resiko terringan dari tiup lilin adalah menyerupai orang barat, atau
bahka mengikuti injil. Jika tidak hati-hati, tindakan ini bisa menjerumuskan
iman. Apalagi rata-rata peniup lilin itu hanya ikut-ikutan dan tidak tahu
maksud yang sebenarnya. Maka Falyataammal menganjurkan untuk ditinggalkan.
Setiap diri
punya pendapat yang berbeda-beda mengenai kedudukan ulang tahun, untuk itu
penulis mengembalikan lagi pada keyakinan yang diangap lebih baik oleh tiap
pembaca.
Referensi:
Ibnu Majah, sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/1994 M.
Abu Zahram, Muhammad. Ushul Fiqh.
Beirut: Dar al –fikr, tt.
Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis
Anak Asuhan Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 4
Puji Lestari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar