Minggu, 08 Mei 2016

PERLUKAH ADANYA ULANG TAHUN?









Kata orang, peristiwa terpenting dalam peradaban manusia ada 3 : kelahiran, pernikahan, dan kematian. Kelahiran dianggap penting untuk diingat karena ia pangkal sejarah hidup. Keindahan mentari pagi, keagungan cakrawala, kelembutan seorang ibu, dan keangkuhan seorang diktator hanya bisa kita rasakan ketika hidup. Dan kelahiranlah yang membuka pintu gerbang itu.
Pernikahan juga dianggap  peristiwa besar karena saat itu terjadi kehidupan baru. Dikatakan kehidupan baru karena ia akan memasuki “alam lain” yang tak terbayangkan sebelumnya. Ibaratnya, sepasang mempelai adalah seperti bayi yang tak pernah membayangkan kehidupan didunia.
Peristiwa besar lainnya adalah kematian. Kematian dianggap penting karena ukuran baik buruknya seseorang tergantung pada saat kematian. Sebaik apapun sejarah hidupnya, jika saat kematian yang melakukan pengingkaran, dicap su’ul khatimah. Demikian pula sebaliknya. Sekalipun raport hidupnya berlepotan dosa, tapi saat naza’ (peristiwa pencabutan roh) ia bertobat, maka kita menyebutnya khusnul khatimah.
Pembicaraan kita kali ini adalah tentang peristiwa besar pertama, kelahiran. Sebagaimana kita maklumi, seluruh perjalanan hidup dimulai dari kelahiran. Oleh karena itu, banyak tradisi, bahkan ritus, yang didasarkan pada natalitas (kelahiran). Walimatul wiladah, aqiqah, peringatan Maulid Nabi, dan hari natal adalah beberapa contoh konkretnya.
Melihat realitas diatas, barangkali kita sepakt bahwa peringatan hari lahir (atau ulang tahun) sudah dikenal oleh adat maupun agama. Lalu, apa masalahnya? Inilah yang hendak kita cermati. Pertama, kita akan bertanya mengapa agama secara subtansial mengesahkan peringatan hari lahir (ulang tahun). Kedua, apa misi (atau pesan moral) yang hendak disampaikan. Ketiga, bagaimana bentuk acara yang diridhoi oleh syara’.
Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita memulai merujuk pada surat Maryam : 15

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Ketika memberi notasi terhadap ayat ini , Ibnu ‘Uyainah mengatakan adalah kondisi yang paling mengkhawatirkan (kritis) bagi seseorang adalah ketika iabaru dilahirkan,  ketika meninggal dunia dan ketika dibangkitkan dialam masyhar ( alam yang menyatukan seluruh manusia, dari yang pertama hingga yang terakhir)
Dahulu nabi Yahya berhasil lahir kedunia dengan selamat( secara fisik tidak cacat dan secara mental tidak di ganggu setan), maka Allah memberi ucapan kepadanya.( Abu Ja’far Muhammad abn al- Thabrani, tafsir al jami’ul al- Bayan, Beirut)

Ucapan selamat atas kelahiran juga pernah dikatakan Nabi Isa kepada dirinya sendiri. 

Firman Allah QS Maryam 33

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Apa yang dikehendaki oleh surat ini memang masih menjadi perdebatan. Yang jelas, sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil untuk mengesahkan selamat natal( selamat ulang tahun)
Jika demikian ,maka pesan moral yang hendak disampaikan dengan adanya ulang tahun adalah untuk mengenang dan mensyukuri peristiwa besar kelahiran kita, dimana saat itu  terjadi tarik-menarik antara bisikan( kebenaran) dari Allah dan bisikan( kejahatan) dari setan.
Bagaimana bentuk syukur untuk ulang tahun kita?. Pada suatu kesempatan , seorang A’rabi (orang kampung) bertanya kepada Rasul tentang puasa hari senin, Rasulpun menjawab
.......(bagus) itu hari kelahiranku dan hari aku menerima wahyu.
Berdasarkan hadis ini, secara implisit kita akan menemukan kausalitas hukum disunnshkaannya puasa senin karena hari itu hari kelahiran nabi. Jika demikian, maka secara tidak langsung Rasul mengajarkan untuk memperingati hari lahir dengan berpuasa.
Lantas mengapa harus berpuasa? Secara filosofis , jabang bayi yang baru lahir adalah suci. Tak satupun dosa menempel. Ini artinya hubungan antara dirinya dan Tuhan belum terkontaminasi (tercemar) dengan penghianatan apapun. Jika perayaan ulang tahun dimotifasi untuk kembali seperti semula (ketika baru lahir) maka petunjuk Nabi untuk memperingati hari lahir dengan berpuas sangat tepat. Sebab, di antara manfaat puasa adalah untuk membakar dosa agar kita dapat besanding kembali dengan Tuhan.
Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sekarang sangat marak terjadi? Untuk mengukur benar tidaknya , ada dua sudut pandang yang perlu di prlihatkan. Yang pertama, motivasi, yang kedua aksi. Yang dimaksud dengan moivasi adalah nilai (tujuan) yang hendak dicapai sehingga ia terdorong untuk melaksanakan ulang tahun. Sedangkan yang di maksud aksi di sini adalah bentuk kegiatan yang akan di adakan.
Kedua hal ini harus dibicarakan secara serius  karena ulang tahu adalah beba nilai. Ia tidak bisa membenarkan menyalahkan dirinya sendiri. Ulang tahun dikatakan benar apabila cara nya benar dan   motivasinya benar. Jika kurang satu salah satu, misalnya tujuannya benar tapi caranya salah dan sebaliknya, maka dengan tegas islam mengatakan ulang tahunnya salah.
Sabda Nabi
Barang siapa menghendaki suatu tujuan dengan cara maksiat, maka ia akan semakin jauh dari tujuan itu, dan semakin dekat dengan yang dikuatirkan.
Dari perjalanan ulang tahun, kita dapat menyatukan beberapa pemicunya ( motivasinya). Antara lain untuk mengikuti arus budaya, sebagai gengsi manusia modrn, dan sebaggian untuk komersialisme. Di samping itu ada pula ulang tahun yang bertujuan untuk bersyukur, minta doa keselamatan, dan intropeksi
Jika pelaksanaan ulang tahun adalah seperti tiga yang pertama, jelas saja ulang tahunnya tidak benar, sebab agama tidak mengajarkan tujuan serendah itu. Jika tujuannya seperti tiga yang terakhir, maka perlu dilihat bentuk aksinya. Jika aksinnya benar, maka ulang tahunnya benar, jika sebaliknya maka tidak benar.

Bagaimana bentuk aksi ulang tahn yang dibenarkan agama? Sesungguhnya banyak cara ulang tahun yang dibenarkan agama, misalnya berpuasa, hataman Al-Quran, bersedekah dsb. Yang jelas diharamkan adalah dansa,maksiaat dan mengamburkan harta dengan tidak membawa kemanfaatan dsb.  Masalah tiup lilinpun menjadi perdebatan dikalangan ulama. Budaya tiup lilin sebenarnya berasal dari budaya Eropa yang di semangati  oleh al kitab( injil). Maksud dari tiup lilin adalah sebagai simbol untuk melupakan segala duka dan dosa yang dilakukan. Misal saja ketika seseorang berumur 17 tahun maka lilin yang ditiup berjumlah 17 sebagai tanda melupakan duka yang ada.( data diperoleh dari wawancara dengan pastor)
Jika demikian, resiko terringan dari tiup lilin adalah menyerupai orang barat, atau bahka mengikuti injil. Jika tidak hati-hati, tindakan ini bisa menjerumuskan iman. Apalagi rata-rata peniup lilin itu hanya ikut-ikutan dan tidak tahu maksud yang sebenarnya. Maka Falyataammal menganjurkan untuk ditinggalkan.
Setiap diri punya pendapat yang berbeda-beda mengenai kedudukan ulang tahun, untuk itu penulis mengembalikan lagi pada keyakinan yang diangap lebih baik oleh tiap pembaca.

Referensi: Ibnu Majah, sunan Ibnu Majah, Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/1994 M.
                 Abu Zahram, Muhammad. Ushul Fiqh. Beirut: Dar al –fikr, tt.

Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis
Anak Asuhan  Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 4

Puji Lestari




Tidak ada komentar:

Posting Komentar