Sungguh menakjubkan masalah lisan ini. Meskipun
bentuknya kecil, tetapi ia mampu mencerminkan zat manusia, mengisyaratkan isi
manusia dan tingkatan mereka dalam segi seni dan peradaban, derajat akal dan
pikiran, pengalaman hidup secara umum, serta kemampuan dan kecerdasan mereka.
Lisan telah banyak menjatuhkan umat manusia ke dalam
kehancuran, telah banyak menyeret barisan tentara ke dalam jurang kemusnahan
dan banyak membinasakan kehidupan sosial manusia. Sungguh menakjubkan
orang-orang yang tertimpa kebinasaan akibat lisan mereka dan tidak mampu
mengendalikan dan mengarahkannya.
Sebenarnya manusia adalah makhluk yang telah dianugerahi akal yang dapat
membedakan yang benar dan yang salah. Manusia juga telah diberi anggota tubuh
yang dapat dipergunakan. Dengan demikian, kebinasaan ini seharusnya dapat
dihindari dengan pengendalian nafsu dan kecenderungannya, sehingga dia dapat
mengendalikan ucapannya.
Sungguh menakjubkan, bahwa seorang manusia bisa
meningkatkan derajatnya ditengah-tengah manusia lainnya dan menetapkan
kedudukannya di tengah-tengah mereka hanya dengan perantaraan lisan. Tidak
setiap orang yang terkenal memiliki perbendaharaan ilmu dan materi, tetapi
sebagian besar mereka memiliki pengetahuan tentang bahaya-bahaya lisan, sehingga
mereka dapat menjaga lisannya untuk tidak bergerak tanpa makna. Dengan
begitutanpaklah pada diri mereka kesempurnaan dan keindahan insani, lalu
sampailah dia kepada derajat yang tinggi di tengah-tengah manusia.
Lisan memiliki kedudukan tersendiri di antara
anggota tubuh lainnya. Lisan bisa menjadi bencana bagi pemiliknya jika dia
berlaku buruk saat menggunakannya. Tetapi, lisan pun bisa menjadi nikmat yang
besar dan anugerah yang agung jika dia bisa menggunakannya dengan baik.
Syekh Imam Ghazali mengatakan bahwa lisan adalah
nikmat Allah yang besar dan termasuk kelembutan ciptaan-Nya yang menakjubkan.
Lisan yang bentuknya kecil, ketaatan dan pengingkarannya bisa besar. Kejelasan
antara kufur dan iman tidak dapat diketahui hanya dengan persaksian lisan, iman
dan kufur ini sebagai simbol ketaatan dan kemaksiatan.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Sofyan dari ayahnya,
bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang islam,
sehingga aku tidak akan menanyakannya kepada kepada orang lain selainmu.” Beliau
berkata, “Katakanlah,’Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” Dia
berkata, “Bagaimana aku memeliharanya?” Beliau memberi isyarat kepada
lisannya.”
Diriwayatkan dari Al-Barra’ dari ‘Azib, dia berkata,
“seseorang Arabi datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Tunjukkanlah
kepadaku suatu perbuatan sehingga aku dapat masuk surga.’ Beliau berkata,
‘Berilah makan kepada orang yang lapar, berilah minum kepada orang yang haus,
cegahlah kemungkaran, jika tidak kuat, jagalah lisanmu kecuali untuk yang
baik.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. pernah meletakkan tongkat
dimulutnya untuk menjaga ucapannya. Lalu dia menunjuk lisannya seraya berkata,
“Inilah yang dapat mengeluarkannku dari tempat-tempat keluar” (keluar dari
batas-batas kebenaran).
Jika ada yang bertanya, mengapa kedudukan dan
keutamaan ini diberikan kapada “diam”? maka hendaklah dia mengetahui bahwa
penyebab bencana lisan senagian besar adalah kebohongan, ghibah (menggunjing),
namimah (menebar fitnah atau mengadu domba), riya, munafik, kekejian dan
keangkuhan, mengkultuskan diri, hanyut dalam kebatilan, permusuhan,
kesombongan, mengubah perkataan (menambah atau mengurangi), menykiti orang
lain, membuka aurat dan lain-lain. Semua bencana itu didahulu oleh lisan.
Sebenarnya bencana ini merupakan tabiat dari setan. Setan selalu merasukkaknnya
ke dalam dada manusia dan membuat mereka melakukan sampai keterlanjuran, lupa
akan batas-batas kebaikan dan keburukan. Hanya sedikit manusia yang mampu
mengendaliakn lisannya sehingga dia mampu mengeluarkan kata-kata yang disukai
dan mengekang kata-kata yang tidak disukai.
Di salam keterlanjuran terdapat bahaya, sedangkan
di dalam diam terdapat keselamatan. Karena itu, diam sangatlah besar
keutamaannya. Di dalam diam terdapat kesinambungan perangai dan watak yang baik
untuk berpikir dan berzikir. Allah telah mengingatkan dengan firman-Nya dalam
surat Qaf ayat 18 :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)
Ayat ini mengisyaratkan keutamaan diam. Masalah yang
kita bahas ini adalah ucapan yang mencakup empat bagian, yaitu ucapan yang
mengandung bahaya mutlak, ucapan yang mengandung manfaat mutlak, ucapan yang
mengandung bahaya dan manfaat, serta ucapan yang tidakmengandung bahaya dan
manfaat.

Tidak diragukan lagi bahwa sebaik-baik manusia
adalah yang dapat menjaga ucapannya dari bencana-bencana lisan, seperti ghibah
(menggunjing), namimah (menebar fitnah atau mengadu domba), dusta, sombong, dan
lain-lain. Kita juga hanya bisa berbicara dengan ucapan yang dibolehkan, yang
tidak mengandung bahaya bagi kita dan bagi muslim lainnya. Seandainya kita
bertahlil dan berzikir kepada Allah SWT, tentu itu lebih baik bagi kita. Dengan
begitu, banyak ucapan kita yang akan membangun istana di surga.
Modal seorang hamba dalah waktu. Seandainya dia
menggunakan waktu itu untuk hal-hal yang tidak berguna dan tidak menabung untuk
akhirat, berarti dia telah menyia-nyiakan modalnya. Rasulullah saw pernah
bersabda di dalam sebuah hadisnya, “Sebagian dari tanda kebaikan islam
seseorang ialah bila dia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan.”
Pernah dikatakan kepada Luqmanul Hakim, “Apa
hikmahmu?” Dia mengatakan, ”Aku tidak meminta balasan atas apa yang aku tidak
perlukan.”
Hendaknya kita perlu membatasi perkataan yang tidak
diperlukan, yaitu perkataan yang tidak akan menimbulkan dosa maupun bencana
jika hal itu tidak diucapkan. Selain itu, yang termasuk bahaya lisan adalah
mengajukan pertanyaan yang kurang tepat. Kita bertanya kepada orang lain
tentang sesuatu yang sebenarnya kita tidak perlukan. Hal itu berarti kita telah
membuang waktu sekaligus telah menyeret orang yang kita tanyai untuk
menyia-nyiakan waktunya dengan menjawab pertanyaan yang tidak kita perlukan.
Lebih buruk lagi pertanyaan itu berkenaan dengan
masalah ibadahnya, misalnya kita bertanya kepada seseorang, “Apakah Anda sedang
berpuasa?” jika dia menjawab, “ Ya,” berarti dia telah menampakkan ibadahnya.
Dalam hal seperti ini akan masuklah riya ke dalam jiwanya, maka gugurlah
ibadahnya dari tabung kerahasiaan, padahal ibadah yang dirahasiakan itu lebih
utama beberapa derajat daripada ibadah yang tampak. Tetapi jika dia mengatakan
“Tidak,” padahal sebenarny dia sedang berpuasa, berarti dia telah berbohong.
Jika dia tidak menjawab, dia akan merasa kurang hormat bahkan hal itu termasuk
perbuatan tercela. Ketika berusaha untuk menjawab, akan terjadi pergolakan di
dalam jiwanya karena dia berhadapan dengan pertanyaan yang menyeretnya kepada
riya, atau bohong, ataupun tercela. Demikian juga pertanyaan yang berhubungan
dengan masalah kemaksiatan serta hal-hal yang tersembunyi dari orang lain, hal
itu harus dihindari.
Berlebih-lebihan dalam Berbicara.
Berlebih-lebihan dalam berbicara adalah sifat yang
tercela dan termasuk bencana lisan. Hal ini misalnya seseorang yang memperdalam
kata-kata yang tidak bermanfaat atau berlebih-lebihan dalam mengungkapkan
sesuatu, meskipun itu bermanfaat bagi dirinya. Kadang-kadang sesuatu yang
sebenarnya dapat diungkapkan dengan kalimat yang ringkas dia ulang sampai
beberapa kali. Pengulangan inilah yang merupakan kelebihan yang tidak berguna.
Perkataan yang berlebih-lebihan itu tidak terbatas
jumlahnya. Oleh karena itu yang terpenting adalah mengetahui batasan yang
diisyaratkan oleh Allah SWT , seperti dalam firman-Nya surat An-Nisa’ ayat 114
:
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ
أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
Rasulullah saw juga mengingatkan dalam sabdanya,
“Berbahagialah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan
apa-apa yang kelebihan dari hartanya”.
Betapa sering hal ini terjadi pada diri manusia,
maka hendaknya kia memanfaatkan kelebihan harta dan menghindari kelebihan
lisan. Al-Hasan mengatakan, “Barangsiapa
yang banyak omongannya, maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang buruk
perilakunya berarti dia lemah jiwanya.”
Bercakap-cakap dalam Kebatilan.
Bercakap-cakap dalam kebatilan adalah berbicara
dalam kemaksiatan, seperti menceritakan seseorang. Memang sebagian besar
manusia sangat senang mendengarkan perkataan yang isinya tidak lebih dari
lelucon atau bahkan termasuk kebatilan. Jinis-jenis kebatilan beraneka ragam,
demikian pula bahayanya. Karena itu tidak ada cara untuk menyelamatkan diri
kita kecuali dengan membatasi dan mengambil secukupnya yang diperlukan saja,
yaitu yang berupa kepentingan agama dan urusan dunia yang memang diperlukan.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang itu
niscaya bercakap-cakap dengan kalimat yang buruk yang termasuk dalam hal-hal
yang dimurkai Allah, sedang dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakannya
tadi sampai kesuatu tingkat (yang dimurkai), kemudian dengan ucapannya iu dia
dicatat untuk memperoleh kemurkaan Allah sampai hari kiamat.”
Berbantah-bantahan dn Bertengkar.
Berdebat dan bertengkar adalah perbuatan yang
terlarang dan orang tidak dapat melakukannya kecuali dengan orang lain dalam
suatu kondisi yang dirasanya benar.
Rasulullah saw mengingatkan dalam sabdanya,
“Janganlah engkau mengucapkan bantahan kepada saudaramu, janagn mengerjakan
senda gurau dan jangan berjanji untuk memenuhi suatu perjanjian kemudian engkau
mengingkarinya.”
Dalam sabda beliau yang lain disebutkan, “Tidaklah
suatu kaum itu menjadi sesat setelah diberi petunjuk oleh Allah, melainkan
disebabkan mereka itu suka berbantah-bantahan.”
Perkataan yang akan menimbulkan pertengkaran adalah
ungkapan dengan maksud menjatuhkan orang lain, melemahkan atau menurunkan martabatnya
dengan keburukan perkataannya, atau menuduhnya sebagai orang-orang yang dangkal
pengetahuannya dan bodoh dalam masalah yang sedang dibicarakan.
Bermusuhan.
Sebuah hadis yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan
dinyatakan sebagai hadis gharib, dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata, Rasulullah
saw bersabda, “Cukuplah bagi kamu untuk tidak selalu bertengkar.”
Asy-Syafi’i mengatakan dalam bukunya Al-Umm tentang
sahabat Ali, bahwa dia pernah mewakilkan pertengkarannya padahal saat itu dia
hadir disitu. Dia mengatakan “Sesungguhnya pertengkaran itu mengandung
keburukan, dan setan selalu datang pada setiap keburukan.”
Sebuah
Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis
Mahasiswa
Institut Agama Islam Negri Salatiga
Puji
Lestari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar