Jumat, 02 September 2016

MENYANTUNI ANAK YATIM







            Apabila kita mendengar istilah anak yatim, kita pasti beranggapan anak yatim adalah seorang anak yang tidak memiliki orang tua. Namun apabila ditelusuri tentang pengertian anak yatim dalam bahasa Indonesia, definisi tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena ada kata anak “piatu” dan juga anak yatim piatu yang memiliki makna yang sama, yaitu anak yang tidak memiliki orang tua.
            Dalam bahasa Arab arti yatim diambil dari kata yatima yaitamu seperti, ta’iba dan yatama sebagaimana qaruba sedangkan masdarnya dapat berupa yatman atau yutman. Untuk manusia keyatiman ditinjau dari jalur ayah.
            Sedangkan secara terminologi anak yatim adalah anak yang tidak ber ayah, sebab kewajiban memberi nafkah terletak kepada ayah, maka tak heran di dalam agama Islam letak keiistimewaannya terletak pada anak yatim bukan anak piatu. Sedangkan untuk hewan, yatim berarti kehilangan induknya, karena susu dan makanannya didapat dari sang induk.
            Imam al-Jashash dalam kitab Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak yatim adalah “ sebutan atau nama untuk anak kecil yang telah wafat bapaknya, bukan orang dewasa, sebagaimana sabda nabi SAW,” tidak disebut anak yati setelah mimpi”. Beliau juga menambahkan yang dimaksud anak yatim yang wajib disantuni adalah anak yatim dan fakir.


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ


Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
Islam yang agung dan universal menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi. Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Anak yatim dalam al Quran di sebutkan sebanyak 23 kali, artinya mereka yang berada di golongan yatim memerlukan perhatian dan pembelaan serta tanggung jawab dari setiap  kaum muslim agar mereka dapat belajar dengan tenang, hidup layak dan bergembira seperti anak-anak lain. 
 
            Secara umum dapat dikatakan, bahwa anak yatim dalam Islam berada pada posisi istimewa dan terhormat. Hal itu dikarenakan pada diri anak yatim terdapat kekurangan dan kelemahan yang memerlukan pihak lain untuk membantu dan memeliharanya. Selain itu, melalui keadaan yatim yang demikian, agama Islam menentukan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umatnya terhadap anak yatim yang menjadi tolak ukur  dari manifestasi imannya kepada Allah Swt.
            Seperti halnya manusia lain, anak yatim pun memiliki hak-hak yang harus ia dapatkan guna memenuhi kebutuhan hidupnya diantaranya:
1.      Kebutuhan fisik yang terdiri dari makanan, pakaian dan tempat berteduh.
2.      Kebutuhan fasilitas yang meliputi sarana belajar dan sarana kesehatan.
3.      Kebutuhan emosional dan psikologis yang terdiri dari pemenuhan perhatian
Menurut Prof. Dr. KH Ahmad Satori Ismail ada beberapa hak anak yatim yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena menurut syariat Islam, ada beberapa kemuliaan apabila kita menyantuni anak yatim. Kemuliaan-kemuliaan tesebut meliputi:
1.      Berbuat dan menyantuni
Berbuat baik dan menyantuni anak yatim merupakan amalan utama dan paling suci. Menurut agama Islam, perbuatan menyantuni anak yatim akan mendapatkan surga. Dan begitu sebaliknya apabila menyiakan-nyiakan anak yatim maka nerakalah balasanya.
2.      Rumah yang paling baik.
Rumah yang paling baik adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang dimuliakan dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim namun di hinakan.
Keberkahan anak yatim pun telah di contohkan dalam sejarah, ada sedikit kisah yang menerima keberkahan yang akan hadirnya anak yatim. Tokoh ternama, paman nabi Muhammad yaitu Abu Thalib kala itu membawa nabi Muhammad yang kala itu telahir dengan keadan yatim untuk membawa Nabi yang masih kecil dan menempelkannya kedinding kabah. Pada saat itu keadaan daerah dilanda pacekli yang berkepanjangan. Alangkah menajubkan ketika jari-jemari Abu Thalib memegang Anak kecil itu (Muhammad ) tiba-tiba langit yang tadinya besih tiba-tiba mendung dari segala penjuru. Kemudian turunlah hujan.
Lantas apa sajakah keutamaan menyantuni anak yatim itu?. Menyantuni anak yatim adalah perbuatan yang sangat mulia, banyak faedah ataupun keutamaannya yang diperoleh orang yang telah menyantuni anak baik keutamaan di dunia maupun di akhirat.
Pada setiap tanggal 10 muharam, anak-anak yatim bergerombolan mendatangi rumah orang kaya yang dermawan. Di sana mereka memperoleh pembagian uang, kebiasaan yang demikian sungguh sangat terpuji.
Sebagai mana yang dicontohkan Amirul Mukminin umar bin Khattab.
Diriwayatkan oleh Ibnul Abidunia dari Haritsan bin Madhrab bahwa Umar bin Khattab berkata “aku menempatkan diriku menghadapi harta ini ( harta negara ) di tempat wali anak yatim, jika aku dalam keadaan cukup aku akan menahan dari harta anak yatim itu.
 Ini lah beberapa keutamaan menyantuni anak yatim:
1.      Sarana mendekatkan diri kepada Allah.
2.      Mendapatkan Kedudukan tinggi di Surga
3.      Ciri Akhlak mulia seseorang
4.      Mendapatkan ampunan dari Allah
5.      Menjadian hati semakin lembut
6.      Menolah Bala
7.      Mendatangkan Rizqi
Betapa mulianya orang yang menyantuni anak yatim, dengan demikian mulailah untuk memperhatikan hak-hak anak yatim dalam kelangsungan hidup mereka, maka hak-hak kelangsungan hidup tiap muslim juga akan di jamin oleh Allah Swt.

Referensi: Jalaluddin Rahmat, Renungan-renungan sufistik, Bandung: Mizan, 1994.
                  Hikmah, A, Cakrawala Al- Quran , Bandung Sm, 2003
           
Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis: Anak Asuhan  Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 5
Puji Lestari