Apabila kita mendengar istilah anak
yatim, kita pasti beranggapan anak yatim adalah seorang anak yang tidak
memiliki orang tua. Namun apabila ditelusuri tentang pengertian anak yatim
dalam bahasa Indonesia, definisi tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena ada
kata anak “piatu” dan juga anak yatim piatu yang memiliki makna yang sama,
yaitu anak yang tidak memiliki orang tua.
Dalam bahasa Arab arti yatim diambil
dari kata yatima yaitamu seperti, ta’iba dan yatama sebagaimana qaruba
sedangkan masdarnya dapat berupa yatman
atau yutman. Untuk manusia keyatiman
ditinjau dari jalur ayah.
Sedangkan secara terminologi anak
yatim adalah anak yang tidak ber ayah, sebab kewajiban memberi nafkah terletak
kepada ayah, maka tak heran di dalam agama Islam letak keiistimewaannya
terletak pada anak yatim bukan anak piatu. Sedangkan untuk hewan, yatim berarti
kehilangan induknya, karena susu dan makanannya didapat dari sang induk.
Imam al-Jashash dalam kitab Ahkam
al-Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak yatim adalah “ sebutan atau nama untuk anak kecil yang
telah wafat bapaknya, bukan orang dewasa, sebagaimana sabda nabi SAW,” tidak
disebut anak yati setelah mimpi”. Beliau juga menambahkan yang dimaksud
anak yatim yang wajib disantuni adalah anak yatim dan fakir.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ
بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ
تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
Dan (ingatlah),
ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum
kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah
kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil
daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ
مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ
مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan
teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ
مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ
مُعْرِضُونَ (٨٣) - See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-83-89.html#sthash.qOt6sWYN.dpuf
Islam yang agung dan universal
menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi. Islam mengajarkan untuk
menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat
menyinggung perasaan mereka. Anak yatim dalam al Quran di sebutkan sebanyak 23
kali, artinya mereka yang berada di golongan yatim memerlukan perhatian dan
pembelaan serta tanggung jawab dari setiap kaum muslim agar mereka dapat belajar dengan
tenang, hidup layak dan bergembira seperti anak-anak lain.
Secara umum dapat dikatakan, bahwa
anak yatim dalam Islam berada pada posisi istimewa dan terhormat. Hal itu
dikarenakan pada diri anak yatim terdapat kekurangan dan kelemahan yang
memerlukan pihak lain untuk membantu dan memeliharanya. Selain itu, melalui
keadaan yatim yang demikian, agama Islam menentukan kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh umatnya terhadap anak yatim yang menjadi tolak ukur dari manifestasi imannya kepada Allah Swt.
Seperti halnya manusia lain, anak
yatim pun memiliki hak-hak yang harus ia dapatkan guna memenuhi kebutuhan
hidupnya diantaranya:
1. Kebutuhan
fisik yang terdiri dari makanan, pakaian dan tempat berteduh.
2. Kebutuhan
fasilitas yang meliputi sarana belajar dan sarana kesehatan.
3. Kebutuhan
emosional dan psikologis yang terdiri dari pemenuhan perhatian
Menurut
Prof. Dr. KH Ahmad Satori Ismail ada beberapa hak anak yatim yang harus
dipenuhi oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena menurut syariat Islam,
ada beberapa kemuliaan apabila kita menyantuni anak yatim. Kemuliaan-kemuliaan
tesebut meliputi:
1. Berbuat
dan menyantuni
Berbuat
baik dan menyantuni anak yatim merupakan amalan utama dan paling suci. Menurut agama
Islam, perbuatan menyantuni anak yatim akan mendapatkan surga. Dan begitu
sebaliknya apabila menyiakan-nyiakan anak yatim maka nerakalah balasanya.
2. Rumah
yang paling baik.
Rumah
yang paling baik adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang
dimuliakan dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim
namun di hinakan.
Keberkahan
anak yatim pun telah di contohkan dalam sejarah, ada sedikit kisah yang
menerima keberkahan yang akan hadirnya anak yatim. Tokoh ternama, paman nabi
Muhammad yaitu Abu Thalib kala itu membawa nabi Muhammad yang kala itu telahir
dengan keadan yatim untuk membawa Nabi yang masih kecil dan menempelkannya
kedinding kabah. Pada saat itu keadaan daerah dilanda pacekli yang
berkepanjangan. Alangkah menajubkan ketika jari-jemari Abu Thalib memegang Anak
kecil itu (Muhammad ) tiba-tiba langit yang tadinya besih tiba-tiba mendung
dari segala penjuru. Kemudian turunlah hujan.
Lantas
apa sajakah keutamaan menyantuni anak yatim itu?. Menyantuni anak yatim adalah
perbuatan yang sangat mulia, banyak faedah ataupun keutamaannya yang diperoleh
orang yang telah menyantuni anak baik keutamaan di dunia maupun di akhirat.
Pada
setiap tanggal 10 muharam, anak-anak yatim bergerombolan mendatangi rumah orang
kaya yang dermawan. Di sana mereka memperoleh pembagian uang, kebiasaan yang
demikian sungguh sangat terpuji.
Sebagai
mana yang dicontohkan Amirul Mukminin umar bin Khattab.
Diriwayatkan oleh Ibnul
Abidunia dari Haritsan bin Madhrab bahwa Umar bin Khattab berkata “aku
menempatkan diriku menghadapi harta ini ( harta negara ) di tempat wali anak
yatim, jika aku dalam keadaan cukup aku akan menahan dari harta anak yatim itu.
Ini lah beberapa keutamaan menyantuni anak
yatim:
1. Sarana
mendekatkan diri kepada Allah.
2. Mendapatkan
Kedudukan tinggi di Surga
3. Ciri
Akhlak mulia seseorang
4. Mendapatkan
ampunan dari Allah
5. Menjadian
hati semakin lembut
6. Menolah
Bala
7. Mendatangkan
Rizqi
Betapa
mulianya orang yang menyantuni anak yatim, dengan demikian mulailah untuk
memperhatikan hak-hak anak yatim dalam kelangsungan hidup mereka, maka hak-hak
kelangsungan hidup tiap muslim juga akan di jamin oleh Allah Swt.
Referensi:
Jalaluddin Rahmat, Renungan-renungan sufistik, Bandung: Mizan, 1994.
Hikmah, A, Cakrawala Al- Quran , Bandung Sm, 2003
Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis: Anak Asuhan Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 5
Puji Lestari



